SEKTE KHAWARIJ
Khawarij merupakan salah satu nama
aliran teologi yang awal kemunculannya pada masa pemerintahan Sayyidina Ali
Karramallahu Wajhah. Sebelumnya kelompok ini merupakan simpatisan Sayyidina
Ali, namun kemudian membangkang sebab beliau menerima tahkim (sebuah metode
penyelesaian sengketa) yang diajukan oleh Sayyidina Muawiyah Radhiyallahu
‘anhu. Al-Allamah Abul Fadhal Senori menjelaskan dalam kitab beliau Al-Kawakib
Al-Lamma’ah :
. ثُمَّ
لَمَّا صَارَتْ إِلَى عَلِيٍّ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ اِشْتَدَّ ظُهُوْرًا،
فَحِيْنَئِذِ تَفَرَّقَ النَّاسُ، وَاخْتَلَفَ آرَاؤُهُمْ، وَتَشَعَّبَتْ
أَهْوَاؤُهُمْ، وَخَرَجَتْ طَائِفَةٌ مِنْ طَاعَتِهِ،
وَنَصَبُوْا لَهُ رَايَةَ الخِلاَفِ، وَنَاجَزُوْهُ بِالقِتَالِ، فَسُمِّيَ
هَؤُلاَءِ بِالخَوَارِجِ. وَيَبْقَى هَذَا الإِسْمُ لِمَنْ سَلَكَ مَسْلَكَهُمْ
وَرَأَى رَأْيَهُمْ.
Baru
setelah Ali Semoga Allah meridhainya diangkat sebagai khalifah, fitnah itu
semakin membesar. Sehingga umat islam tepecah belah, berselisih paham, serta
keinginan mereka tercerai- berai. Sekelompok orang keluar dari barisan Ali,
mengibarkan panji-panji pembangkangan bahkan memeranginya, maka mereka disebut
dengan Khawarij. Nama ini terus berlaku bagi mereka yang mengikuti jalan
Khawarij dan sependapat dengan mereka.
Kelompok
yang secara historis berangkat dari sebuah perbedaan pandangan politik namun
berkembang menjadi sekte yang memiliki keyakinan dan praktik khas. Al-Imam
Al-Syahrastani memberikan definisi yang lebih umum lagi mengenai definisi dari
aliran tersebut dalam kitabnya yang fenomenal yakni Al-Milal Wa Al-Nihal Juz 1
hlm 114:
كل من خرج على
الإمام الحق الذي اتفقت الجماعة عليه يسمى خارجيا، سواء كان الخروج في أيام
الصحابة على الأئمة الراشدين؛ أو كان بعدهم على التابعين بإحسان، والأئمة في كل
زمان. والمرجئة صنف آخر تكلموا في الإيمان والعمل،
إلا أنهم وافقوا الخوارج في بعض المسائل التي تتعلق بالإمامة. والوعيدية
داخلة في الخوارج، وهم القائلون بتكفير صاحب الكبيرة وتخليده في النار، فذكرنا
مذاهبهم في أثناء مذاهب الخوارج. اعلم أن أول من خرج على أمير المؤمنين علي رضي
الله عنه جماعة ممن كان معه في حرب صفين، وأشدهم خروجا عليه ومروقا من الدين: الأشعث بن قيس
الكندي، ومسعر بن فدكي التميمي، وزيد بن حصين الطائي حين قالوا: للقوم يدعوننا
إلى كتاب الله، وأنت تدعونا إلى السيف! حتى قال: أنا أعلم بما
في كتاب الله! انفروا إلى بقية الأحزاب! انفروا إلى من يقول: كذب الله
ورسوله، وأنتم تقولون: صدق الله
ورسوله. قالوا: لترجعن الأشتر
عن قتال المسلمين، وإلا فعلنا بك مثل ما فعلنا بعثمان، فاضطر إلى رد الأشتر بعد أن
هزم الجمع، وولوا مدبرين وما بقي منهم إلا شرذمة قليلة منهم حشاشة قوة، فامتثل
الأشتر أمره.
Setiap
orang yang memberontak pada Imam
(pemimpin) yang benar dan telah disepakati oleh ummat maka ia disebut Khawarij.
Baik itu terjadi di masa para sahabat terhadap para khalifah atau setelah
mereka yakni era Tabi’in maupun terhadap para Imam pada setiap masanya. Murji'ah
adalah kelompok lain yang berbicara tentang iman dan amal kecuali bahwa mereka
sependapat dengan Khawarij pada beberapa masalah yang berkaitan dengan Imamah
(kepemimpinan). Al-Wa'idiyyah termasuk di antara Khawarij dan mereka lah yang
mengkafirkan pelaku dosa besar serta menyatakan kekalnya di neraka selamanya.
Kami
masukkan ajaran mereka ke dalam bagian madzhab Khawarij. Ketahuilah bahwa
kelompok pertama yang memberontak Amirul Mukminin Ali adalah orang-orang yang membelanya dalam Perang
Siffin. Dan yang paling keras memberontak terhadap Ali bahkan murtad dari agama
adalah Al-Asy'ats bin Qais Al-Kindi, Mis'ar bin Fadaki Al-Tamimi, dan Zaid bin
Hushain Al-Ta'i. Mereka berkata: Orang-orang mengajak kita pada Kitab Allah dan
kamu mengajak kita pada pedang! Hingga Ali berkata: Aku lebih mengetahui apa
yang ada di dalam Kitab Allah! Pergilah pada kelompok lain! Pergilah kepada
mereka yang mengatakan: Allah dan Rasul-Nya telah berdusta, sementara kalian
mengatakan: Allah dan Rasul-Nya telah berkata benar.
Mereka
berkata: Engkau harus menarik Al-Asytar dari memerangi kaum Muslimin (Khawarij).
Jika tidak, kami akan melakukan kepadamu sebagaimana yang telah kami lakukan
pada Utsman. Maka Ali terpaksa memerintahkan mundur Al-Asytar setelah
mengalahkan kelompok itu, hingga mereka pun berbalik dan melarikan diri serta
tidak seorang pun yang tersisa kecuali sekelompok kecil dari mereka, termasuk
pasukan yang kuat. Maka Al-Asytar pun mematuhi perintah Ali.
Diantara ciri khas keyakinan kaum khawarij adalah mengkafirkan
orang fasik atau pelaku dosa besar, bahkan tanpa ragu mengkafirkan Sayyidina
Ali Karramallahu Wajhah. Al-Imam Abul Hasan Al-Asy’ari menyebutkan dalam
Maqalat Al-Islamiyyin hlm 84 :
أجمعت الخوارج على
إكفار علي بن أبي طالب -رضوان الله عليه- إن حكم وهم مختلفون هل كفره شرك أم لا.
وأجمعوا على أن كل
كبيرة كفر إلا "النجدات" فإنها لا تقول ذلك.
وأجمعوا على أن الله -
سبحانه - يعذب أصحاب الكبائر عذاباً دائماً إلا النجدات أصحاب نجدة
“Khawarij sepakat atas kekafiran Sahabat Ali
Ridhwanullah alaihi. Sekalipun begitu mereka berselisih apakah kekafiran beliau
itu syirik atau tidak. Mereka sepakat pula bahwa setiap dosa besar menyebabkan
kekafiran, kecuali sekte Al-Najadat, mereka tidak meyakini demikian. Juga
mereka sepakat bahwa Allah Ta'ala menyiksa pelaku dosa besar selamanya selain
Al-Najadat yaitu pengikut Najdah.”
Kemudian Al-Syaukani menukil qaul Al-Razi dalam Fathul
Qadir Juz 1 hlm 68:
قال الرازي في تفسيره: واختلف أهل القبلة هل هو مؤمن أو كافر؟ فعند
أصحابنا أنه مؤمن، وعند الخوارج أنه كافر، وعند المعتزلة لا مؤمن ولا كافر.
Berkata
Al-Razi dalam Tafsirnya :”Umat berbeda pendapat apakah orang fasik termasuk
mukmin atau kafir? Menurut kami mereka mukmin. Menurut Khawarij mereka kafir
dan menurut Mu’tazilah mereka tidak mukmin tidak pula kafir.”
Umat
islam sudah semestinya belajar dari sejarah, bahwa dulu mereka pernah mengalami
perang saudara, perpecahan bahkan mengakibatkan munculnya aliran teologi
disebabkan perbedaan sudut pandang politik ataupun fanatisme golongan.
Wallahu A’lam
Semoga
Bermanfaat.