Hukum Shalat Jum'at Yang Bertepatan Dengan Hari Raya
Pertanyaan :
Ketika hari raya bertepatan pada hari Jum'at, Bagaimana
hukum shalat Jum'at bagi orang yang sudah melaksanakan shalat 'Id?
Jawaban :
Mengenai hukum shalat Jum'at bagi orang yang sudah melaksanakan shalat 'Id, ulama berbeda pendapat.
Pertama, menurut Madzhab Syafi'i hukumnya wajib bagi orang perkotaan yang dekat jangkauannya dari masjid dan gugur bagi orang-orang desa yang jauh jangkauannya dari masjid. Hal tersebut sesuai penjelasan dalam kitab Al Muhadzdzab juz 1 hal 206:
وإن اتفق يوم عيد ويوم جمعة فحضر أهل
السواد فصلوا العيد فجاز أن ينصرفوا ويتركوا الجمعة؛ لما روي أن عثمان رضي الله
عنه قال في خطبته: "أيها الناس قد اجتمع عيدان في يومكم هذا فمن أراد من أهل
العالية أن يصلي معنا الجمعة فليصل ومن أراد أن ينصرف فلينصرف" ولم ينكر عليه
أحد؛ ولأنهم إذا قعدوا في البلد لم يتهيأوا بالعيد فإن خرجوا ثم رجعوا للجمعة كان
عليهم في ذلك مشقة والجمعة تسقط بالمشقة. ومن لا جمعة عليه مخيرٌ بين الظهر
والجمعة فإن صلى الجمعة أجزأه عن الظهر؛ لأن الجمعة إنما سقطت عنه لعذرٍ
“Ketika hari raya bertepatan dengan hari jum’at lalu
penduduk desa yang datang dan melakukan
shalat ‘id maka diperbolehkan untuk pulang dan meninggalkan shalat jum’at,
sesuai riwayat bahwa sahabat Utsman berkata dalam khutbahnya: “Wahai
orang-orang, telah bertemu dua hari raya saat ini. siapa dari desa jauh yang
ingin shalat jum’at bersama kami silahkan. Siapa yang ingin pulang silahkan.”
Tidak ada satupun yang mengingkari ucapan beliau. Juga disebabkan ketika
penduduk desa pergi dari kota lalu kembali lagi untuk shalat jum’at maka itu
menjadi masyaqqat (kesulitan) bagi mereka. Sedangkan keajiban shalat jum’at
gugur sebab masyaqqat. Orang yang tidak wajib melakukan shalat jum’at memiliki
opsi untuk melakukan shalat dhuhur atau tetap shalat jum’at. Ketika ia
melakukan shalat jum’at maka sah. Karena kewajiban shalat jum’at gugur dengan
adanya halangan.”
Juga dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin hal 187:
(مسئلة) فيما إذا وافق
يوم الجمعة يوم العيد ففى الجمعة أربعة مذاهب فمذهبنا أنه إذاحضر أهل القرى
والبوادى العيد وخرجوا من البلاد قبل الزوال لم تلزمهم الجمعة وأما أهل البلد
فتلزمهم ومذهب أحمد لاتلزم أهل البلد ولاأهل القرى فيصلون ظهرا ومذهب عطاء لاتلزم
الجمعة ولاالظهر فيصلون العصر ومذهب أبى حنيفة تلزم الكل مطلقا
“Sebuah pertanyaan ketika hari raya bertepatan dengan hari
jum’at. Mengenai hukum shalat jum’at terdapat setidaknya empat madzhab. Untuk
madzhab kita, ketika penduduk desa menghadiri shalat ‘id dan mereka pulang
sebelum tergelincirnya matahari maka tidak wajib melakukan shalat jum’at.
Adapun penduduk kota maka mereka tetap wajib menjalankan shalat jum’at. Menurut
madzhab Hanbali shalat jum’at tidak wajib bagi penduduk kota maupun penduduk
desa, mereka diwajibkan shalat dhuhur. Sedangkan menurut madzhab Atha’ tidak
diwajibkan shalat dhuhur maupun shalat jum’at, namun tinggal menunggu dhuhur
habis dan melakukan shalat ashar. Adapun menurut madzhab Hanafi mereka tetap
wajib melakukan shalat jum’at semuanya.”
Hanya saja perlu dipahami bahwa pendapat tersebut
disesuaikan dengan masanya, dimana masjid untuk shalat Jum'at tidak sebanyak
seperti sekarang. Sehingga untuk saat ini dimana semua wilayah baik pedesaan
maupun perkotaan masing-masing memiliki masjid yang mudah jangkauannya maka
sesuai madzhab Syafi'i hukum shalat jumatnya tetap wajib.
Kedua, menurut madzhab Hambali hukum menghadiri shalat
Jum'at gugur bagi orang yang telah melakukan shalat 'id, sehingga yang wajib
baginya ialah melakukan shalat dhuhur.
Seperti dijelaskan dalam Al Muharrar karya Majduddin Ibnu Taimiyah juz 1 hal 159 :
إذا اجتمع عيدٌ وجمعةٌ سقطت الجمعة عمن
حضر العيد إلا الإمام. وعنه: تسقط عنه أيضًا، وحضورها أولى، وكذلك يسقط العيد
بالجمعة إذا قدمت عليه]
“Ketika shalat jum’at bertepatan dengan hari raya maka gugur
kewajiban orang yang telah melakukan shalat hari raya kecuali imam. Dikatakan
shalat jum’at juga gugur bagi imam. Namun tetap melaksanakannya lebih utama,
seperti itu juga shalat ‘id gugur ketika dilaksanakan setelah shalat jum’at”.
Juga dalam Kasysyaful Qina' juz 2 hal 43:
وإذا وقع عيد يوم جمعة فصلوا العيد
والظهر جاز) ذلك (وسقطت الجمعة عمن حضر العيد) مع الإمام وحينئذٍ فتسقط الجمعة
(إسقاط حضورٍ، لا) إسقاط (وجوب) فيكون حكمه (كمريضٍ ونحوه) ممن له عذرٌ أو شغلٌ
يُبيح ترك الجمعة.
“Ketika shalat ‘id bertepatan dengan hari jum’at lalu
orang-orang melakukan shalat ‘id lalu dhuhur maka diperbolehkan. Sebab shalat
jum’at gugur bagi orang yang telah menjalankan shalat ‘id bersama imam, dan
saat itu shalat jum’at gugur untuk dihadiri. Bukan gugur kewajibannya, sehingga
hukumnya seperti orang yang sakit atau sejenisnya yaitu orang-orang yang
terhalang atau kerepotan yang diperbolehkan meninggalkan shalat jum’at”.
Wallahu A'lam
Semoga bermanfaat.