Shalat Sunnah Setelah Shalat Witir
Pertanyaan :
Bagaimana hukum shalat Sunnah malam seperti tahajjud atau lainnya yang dilakukan setelah shalat
witir?
Jawaban :
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita ulas sedikit keterangan
dari beberapa ulama diantaranya As Syaikh Abul 'Ula Abdurrahman Al Mubarakfury,
dalam kitabnya Tuhfatul Ahwadzi Syarah Sunan Al Tirmidzi Juz 2 Hal 470 beliau menjelaskan:
"قوله (وقال بعض أهل العلم من أصحاب
النبي صلى الله عليه وسلم وغيرهم إذا أوتر من أول الليل ثم نام ثم قام من آخره أنه
يصلي ما بدا له ولا ينقض وتره إلخ)"
“Ucapan Imam Tirmidzi : Bahwa sebagian ulama dari para
sahabat dan lainnya menyebutkan ketika seseorang telah melakukan shalat witir
pada awal malam, lalu tidur dan bangun pada akhir malam, maka ia melakukan
shalat yang diinginkannya dan shalat witirnya tidak batal.”
"روى محمد بن نصر في قيام الليل عن
عائشة عن أبي بكر الصديق أنه كان يوتر قبل أن ينام فإذا قام من الليل صلى مثنى
مثنى حتى يفرغ مما يريد أن يصلي وعن عمار بن ياسر وقد سئل عن الوتر فقال أما أنا
فأوتر قبل أن أنام فإن رزقني الله شيئا صليت شفعا شفعا إلى أن أصبح"
“Muhammad bin Nashr meriwayatkan tentang qiyamul lail dari
Sayyidah Aisyah r.a, dari Sayyidina Abu Bakar r.a bahwa beliau shalat witir
sebelum tidur. Maka ketika bangun untuk qiyamul lail beliau shalat 2 rakaat 2
rakaat hingga selesai melakukan shalat yang dikehendakinya.”
Kemudian Al Imam An Nawawi Ad Dimasyqi juga menegaskan dalam
kitab Al Majmu' Syarah Al Muhadzdzab Juz 4 Hal 15 :
إذا أوتر قبل أن ينام، ثم قام وتهجد:
لم ينقض الوتر على الصحيح المشهور، وبه قطع الجمهور، بل يتهجد بما تيسر له شفعًا.
“Ketika seseorang melakukan shalat witir sebelum tidur dan
ia bangun untuk bertahajjud maka witirnya tidak batal menurut qaul shahih dan
masyhur, dengan pendapat ini pula Mayoritas Ulama menetapkan. Namun ia shalat
tahajjud dengan rakaat genap.”
Dari maraji' diatas, bisa kita simpulkan bahwa shalat sunnah yang dilakukan setelah shalat witir seperti shalat tahajjud, shalat hajat atau lainnya diperbolehkan tanpa harus melakukan shalat
witir lagi setelahnya.
Adapun dawuh Nabi yang memerintahkan kita untuk melakukan
witir sebagai shalat terakhir itu bermakna sunnah bukan wajib. Seperti yang
dijelaskan dalam Tuhfatul Ahwadzi Juz 2 Hal 471:
"وقال محمد بن نصر وقد قال من ذهب هذا
المذهب قول النبي صلى الله عليه وسلم اجعلوا آخر صلاتكم من الليل وترا إنما هو ندب
واختيار وليس بإيجاب"
Dan telah berkata
Muhammad bin Nashr : “Ulama’ yang berpendapat shalat witir dijadikan terakhir
dengan mengikuti sabda Nabi : “Jadikanlah witir sebagai shalat malam terakhir
kalian” maka itu maksudnya disunnahkan atau
pilihan, sama sekali bukan bermakna wajib.”
Wallahu A'lam
Semoga bermanfaat.