Ziarah Kubur Bagi Wanita Haid
Pertanyaan :
Bagaimana hukum ziarah kubur bagi perempuan yang sedang haid?
Jawaban :
Bagi laki-laki, ziarah kubur hukumnya sunnah menurut madzhab Syafi'i. Sedangkan bagi
perempuan hukumnya makruh baik dalam keadaan suci maupun haid. Ini merupakan
qaul mu'tamad (pendapat kuat) dalam madzhab Syafi’I seperti penjelasan dalam
kitab Mughnil Muhtaj Juz 2 hal 56:
(و) يندب (زيارة القبور)
التي فيها المسلمون (للرجال) بالإجماع، وكانت زيارتها منهيا عنها، ثم نسخت لقوله -
صلى الله عليه وسلم
(( كنت نهيتكم عن زيارة
القبور فزوروها )) ، ولا تدخل النساء في ضمير الرجال على المختار
“Dan laki-laki disunnahkan ziarah kubur orang islam menurut ijma’ (kosensus para ulama’). Sekalipun pada awalnya ziarah kubur dilarang yang kemudian dinasakh (direvisi) dengan sabda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam : “Dulu aku pernah melarang kalian ziarah kubur, maka sekarang ziarahlah” Dalam redaksi hadits tersebut tidak menggunakan kata ganti perempuan sesuai qaul mukhtar (yang dipilih Imam Nawawi).”
Meski demikian, Imam Ar Ruyani menghukumi Jaiz atau boleh
asalkan aman dari fitnah seperti yang dijelaskan dalam An Najmul Wahhaj Juz 3
Hal. 113 serta hampir seluruh syarah kitab Minhajut Thalibin :
قال: (وقيل: تباح) جزم به في (الإحياء) وصححه
الروياني إذا أمن من الافتتان.
“Imam Nawawi berkata: Dikatakan hukumnya mubah, seperti
penjelasan Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya’ serta dibenarkan oleh Imam Ar Ruyani
selagi peremepuan itu aman dari fitnah”
Alasan kemakruhan tersebut disebabkan potensi perempuan
meratapi jenazah saat melakukan ziarah kubur.
Dijelaskan dalam I'anatut Thalibin Juz 2 Hal 161 :
"(قوله: لا لأنثى) تصريح
بالمفهوم، ومثلها الخنثى.
(قوله: فتكره) أي الزيارة،
لأنها مظنة لطلب بكائهن، ورفع أصواتهن، لما فيهن من رقة القلب، وكثرة الجزع، وقلة
احتمال المصائب.
وإنما لم تحرم لانه - صلى الله عليه وسلم - مر
بامرأة تبكي على قبر صبي لها، فقال لها: اتقي الله واصبري متفق عليه.
فلو كانت الزيارة حراما لنهي عنها."
“Ucapan Mushannif “Tidak disunnahkan untuk perempuan”
merupakan pernyataan dengan sebuah konsep. Juga di makruhkan bagi khuntsa (pemilik
kelamin ganda). Ucapan Mushannif “maka hukumnya dimakruhkan” karena pada ziarah
kubur memiliki potensi faktor pemicu tangisan serta jeritan mereka sebab hati yang rapuh. Namun tidak sampai
diharamkan sebab Rasulullah pernah melewati seorang perempuan yang menangis di
makam anak kecilnya. Lalu beliau bersabda: “bertakwalah engkau dan bersabarlah.
Hadits ini disepakati keshahihannya, sehingga andaikan ziarah kubur haram bagi
perempuan tentu Nabi akan melarangnya”
Juga tidak dimakruhkan untuknya berziarah makam para Nabi,
Ulama dan Auliya'. Sebab menziarahi Nabi termasuk diantara utamanya taqarrub.
Adapun ziarah makam Ulama' dan Auliya' untuk merealisasikan bentuk penghormatan
dengan meramaikan makamnya.
Adapun perempuan Haid yang berziarah maka perlu
kehati-hatian dalam membaca ayat Al Quran, yakni ia niatkan berdzikir bukan
dengan niat membaca Al Qur'an sebab itu terlarang baginya.
Wallahu A'lam
Semoga bermanfaat.