Istilah Ahlussunnah Wal Jama'ah
Pasca kemunculan
Khawarij dan Syi’ah hingga keduanya terpecah menjadi beberapa golongan, lalu
muncul kelompok lain yang mengklaim sebagai Ahlul ‘adli wa al tauhid dan mereka
adalah Mu’tazilah. Peristiwa ini terjadi pada akhir periode tabi’in. Para sejarawan
berbeda pendapat mengenai asal muasal penyebutan mu’tazilah bagi mereka. As
Syaikh Muhammad Zahid Al kautsary memaparkan dalam Al Tanbih Wa Al Radd hal
15-16 :
واختلف
المؤرخون في سبب تسميتهم بالمعتزلة. فقيل لقبوا بذلك لأن واصلا و عمر بن عبيد
اعتزلا حلقة الحسن البصري, لانهما اختلفا معه. وبعد أن رأيا أن
مرتكب الكبيرة ليس بمؤمن ولا بكافر, بل في منزلة بين المنزلتين فسموا من اجل ذلك
بالمعتزلة. وقيل سموا معتزلة لأنهم اعتزلوا كل الأقوال السابقة التي ذهب اليها
المرجئة والأزارقة في مرتكب الكبيرة. وقيل ان كلمة معتزلة أطلقت أول ما أطلقت على
الذين اعتزلوا الفتنة بين علي و معاوية ثم أطلقت على الذين خالفوا المرجئة وغيرهم
من الفرق.
“Para
sejarawan berbeda pendapat mengenai sebab penamaan Mu’tazilah. Ada yang
mengatakan mereka dijuluki demikian sebab Al Washil dan Umar bin Ubaid menyempal
dari majelisnya Al Hasan Al Bashri, sebab keduanya berselisih dengan beliau. Setelah
mereka berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar tidak termasuk mu’min atau kafir,
namun berada di posisi tengah antara iman dan kufur oleh karenanya mereka
disebut Mu’tazilah. Ada lagi yang mengatakan mereka disebut Mu’tazilah sebab
menyempal dari keyakinan sebelumnya yang dianut kelompok Murjiah dan Al
Azariqah perihal pelaku dosa besar. Ada lagi yang menjelaskan bahwa kata Mu’tazilah
pertama kali disematkan bagi orang yang menyingkir dari fitnah antara sahabat
Ali dan Mu’awiyah. Kemudian ditujukan bagi orang yang yang menyelisihi Al
Murjiah dan aliran lainnya.”
Setelah
kedatangan Mu’tazilah, maka muncul kelompok lain yang disebut dengan
Ahlussunnah wal jama’ah. Sebenarnya hakikat dari Ahlussunnah sendiri merupakan
ajaran Nabi dan para sahabat. Serta julukan Ahlussunnah sendiri sudah ada
semenjak zaman sahabat, seperti disebutkan dalam tafsir Ibnu Abi Hatim yang
menukil riwayat dari sahabat Abdullah bin Abbas. Adapun istilah Ahlussunnah di
sini digunakan untuk menyebut gerakan teologi bagi para ulama’ yang menetapi
sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam maupun thariqah para
sahabat Radhiallahu anhum . Nama tersebut digunakan untuk membedakan
antara satu aliran dengan aliran yang lain. Sehingga dalam kesempatan yang lain
Syaikh Abul Fadhol Senori menyebutkan dalam Al Kawakibul Lamma’ah hal 8:
وَحِيْنَئِذٍ حَدَثَ اِسْمُ "أَهْلِ
السُّنَّةِ وَالجَمَاعَةِ" لِلَّذِيْنَ لاَزَمُوْا سُنَّةَ
النَّبِيِّ وَطَرِيْقَةَ الصَّحَابَةِ فِيْ العَقَائِدِ الدِّيْنِيَّةِ
وَالأَعْمَالِ البَدَنِيَّةِ وَالأَخْلاَقِ القَلْبِيَّةِ فَمَنْ اشْتَغَلَ
مِنْهُمْ بِإِقَامَةِ الحُجَجِ وَالدَّلاَئِلِ العَقْلِيَّةِ وَالنَّقْلِيَّةِ
لِلْأُمُوْرِ الإِعْتِقَادِيَّةِ سُمِّيَ بِالمتَكَلِّمِيْنَ أَوْ أَهْلِ
الكَلاَمِ،وَمَنْ اشْتَغَلَ مِنْهُمْ بِعِلْمِ العِبَادَاتِ البَدَنِيَّةِ وَالمعَامَلاَتِ
وَالمنَاكَحَاتِ وَالفَتَاوَى فِيْ الأَقْضِيَةِ وَالحُكُوْمَاتِ وَنَحْوِ ذَلِكَ
سُمِّيَ بِالفُقَهَاِء أَوْ أَهْلِ الفِقْهِ، وَمَنْ
اشْتَغَلَ مِنْهُمْ بِجَمْعِ الأَحَادِيْثِ النَّبَوِيَّةِ وَتَمْيِيْزِ
صَحِيْحِهَا مِنْ غَيْرِهِ وَنَحْوِ ذَلِكَ سُمِّيَ بِالمحَدِّثِيْنَ أَوْ أَهْلِ
الحَدِيْثِ، وَمَنْ اشْتَغَلَ مِنْهُمْ بالأَعْمَالِ الظَّاهِرَةِ
وَتَصْفِيَةِ القُلُوْبِ عَنِ الأَخْلاَقِ المذْمُوْمَةِ وَتَحْلِيَتِهَا
بِمَكَارِمِهَا سُمِّيَ بِالصُّوْفِيَةِ أَوْ أَهْلِ التَّصَوُّفِ.
”Dan ketika itu
muncul istilah Ahlussunnah wal jama’ah bagi orang-orang yang menetapi sunnah
Nabi juga thariqah sahabat pada perkara akidah, amal-amal badaniyah dan akhlak al-qalbiyah.
Ulama dari mereka yang fokus menggeluti dalil-dalil aqli maupun naqli pada
perkara akidah disebut dengan Mutakallimin atau Ahli kalam. Ulama yang
menggeluti ilmu ubudiyah, muamalat, munakahat, fatwa hukum atau sejenisnya
disebut dengan Fuqaha’ atau Ahli fiqih. Ulama yang sibuk dengan mengumpulkan hadits
Nabawi, meneliti sahih atau tidaknya dan sebagainya disebut dengan Muhaddits
atau Ahli Hadits. Ulama yang menggeluti amal lahiriyah menyucikan hati dari
akhlak tercela, menghiasi dengan akhlak yang mulia disebut dengan Shufi atau Ahli
tasawwuf. ”
Oleh karena
itu istilah Ahlussunnah wal jamaah bisa dikatakan, sebuah nama yang digunakan untuk
menyebut orang yang menapaki jalan Nabi dan sahabat dari golongan para tabi’in,
ahlu hadits, ahli fiqih atau orang-orang yang mengikuti mereka hingga hari ini.
Sesuai penjelasan Al Syahrasytani dalam Al Milal wa Al Nihal. Penjelasan
serupa diutarakan oleh Abdul Qahir Al Baghdadi dalam Al-farqu bain al-firaq
hal 19:
فاما الفرقة الثالثة والسبعون فهي أهل السنة
والجماعة من فريقي الرأي والحديث دون من يشترى لهو الحديث وفقهاء هذين الفريقين
وقراؤهم ومحدثوهم ومتكلمو أهل الحديث منهم كلهم متفقون على مقالة واحدة في توحيد
الصانع وصفاته وعدله وحكمته وفي اسمائه وصفاته وفى ابواب النبوة والإمامة - ثم قال
- فمن قال بهذه الجهة التي ذكرناها ولم يخلط ايمانه بها بشيء من بدع الخوارج
والروافض والقدرية وسائر اهل الاهواء فهو من جملة الفرقة الناجية ان ختم الله له
بها وقد دخل في هذه الجملة جمهور الامة وسوادها الأعظم من اصحاب مالك والشافعي
وأبى حنيفة والأوزاعى والثورى وأهل الظاهر.
“Adapun Golongan
ke 73 yaitu Ahlussunnah wal jama’ah dari kelompok ahli ra’yi dan ahli hadits
bukan orang yang melakukan lahwal hadits (ucapan yang tidak berguna), fuqaha’
dari dua golongan ini, ulama’nya, ahli haditsnya maupun ahli kalam dari
muhaddits mereka semua sepakat pada satu keyakinan perihal tauhid pencipta,
sifat-sifat, keadilan juga derajatNya. Mereka sepakat pada asma, bab kenabian
maupun masalah kepemimpinan. (lalu beliau berkata) orang yang meyakini apa yang
telah kami paparkan tanpa terkena bid’ah khawarij, rafidhah, qadariyah atau ahlul
hawa’ lainnya, maka mereka masuk dalam kategori golongan yang selamat. Serta
masuk dalam kumpulan ini mayoritas umat dari para murid Imam Malik, Imam Syafi’i,
Abu Hanifah, Al Auza’i, Al tsauri dan pengikut Dzahiriyah.”
Para Imam madzhab mengajarkan paham Ahlussunnah lalu diteruskan para ulama setelah mereka serta membantah akidah yang menyimpang hingga aktifitas itu sampai pada dua orang imam besar yakni Al Imam Abu Al-Hasan Al Asy’ari dan Abu Manshur Al-Maturidi. Yang pertama bergelar Imam Ahlussunnah dan kedua bergelar Imamul Huda.
Wallahu A'lam
Semoga Bermanfaat.